Korban Banjir Nepal Terus Bertambah, Ribuan Orang Masih Hilang

Berita82 Views

Korban Banjir Nepal Terus Bertambah, Ribuan Orang Masih Hilang Jumlah korban meninggal akibat banjir besar yang menerjang kawasan Himalaya di Nepal terus bertambah seiring tim penyelamat menjangkau desa, lembah, terowongan pembangkit listrik, dan kawasan terpencil yang sebelumnya terputus. Operasi pencarian kini memasuki fase sulit karena ribuan orang masih tercatat hilang, sementara tim gabungan harus menyingkirkan lumpur, batu, serta puing bangunan dalam jumlah sangat besar.

Data Reuters pada 2 September 2026 mencatat sedikitnya 1.204 orang telah dipastikan meninggal di Nepal dan lebih dari 4.200 lainnya masih belum ditemukan. Angka tersebut berubah cukup cepat karena proses identifikasi dan pencarian masih berlangsung. Associated Press pada pembaruan lain mencatat sedikitnya 1.118 korban meninggal dan lebih dari 3.900 orang hilang, menunjukkan pencatatan dapat berbeda mengikuti waktu pembaruan dan sumber resmi yang digunakan.

Bencana terjadi pada 26 Agustus ketika material es, batu, air, dan lumpur bergerak dalam jumlah sangat besar dari kawasan pegunungan dekat perbatasan Nepal dan Tibet. Para ahli menduga runtuhnya bagian gletser menjadi pemicu utama yang kemudian menghasilkan gelombang air sangat kuat menuju lembah di bawahnya.

Besarnya jumlah warga yang belum ditemukan membuat otoritas memperkirakan angka korban meninggal masih dapat berubah dalam beberapa hari berikutnya.

Gelombang Air Datang Membawa Es, Batu dan Lumpur

Banjir yang melanda Nepal kali ini berbeda dari genangan akibat hujan biasa. Material dari kawasan pegunungan bergerak dengan kekuatan sangat besar menuju lembah dan sungai yang mengalir di antara permukiman.

Reuters mencatat banjir membawa campuran es, batu, lumpur, serta material lain pada pagi 26 Agustus. Arus kemudian memasuki jaringan sungai dan bergerak cepat menuju kawasan yang lebih rendah.

Rumah, jalan, jembatan, kendaraan, fasilitas listrik, serta bangunan yang berada dekat aliran sungai tersapu.

Di beberapa lokasi, batas antara jalan dan sungai hampir tidak dapat dikenali setelah aliran membawa material dalam jumlah besar.

Keadaan tersebut juga menyulitkan petugas menentukan lokasi bangunan yang sebelumnya berdiri. Tim pencarian harus menggunakan peta, keterangan warga, foto lama, serta koordinat untuk memperkirakan posisi rumah atau fasilitas yang telah tertutup lumpur.

“Menurut penulis, besarnya angka orang hilang menjadi alasan utama mengapa jumlah korban belum dapat dianggap final. Setiap area baru yang berhasil dijangkau dapat membawa informasi berbeda dari catatan sebelumnya.”

Lebih dari Empat Ribu Orang Masih Dicari

Pencarian orang hilang menjadi prioritas utama pemerintah Nepal.

Reuters pada 2 September mencatat lebih dari 4.200 orang masih belum ditemukan, sementara tim penyelamat terus bergerak menuju kawasan yang sebelumnya terisolasi.

Sebagian orang yang masuk daftar hilang kemungkinan masih berada di lokasi pengungsian, kehilangan akses komunikasi, atau berpindah dari daerah asal tanpa sempat melapor.

Hal tersebut terlihat dari kasus sejumlah wisatawan asing yang sebelumnya masuk daftar hilang tetapi kemudian berhasil menghubungi pihak berwenang.

Kementerian Luar Negeri Nepal menyatakan 324 warga asing berhasil diselamatkan. Sebanyak 590 warga negara asing dari 39 negara masih tercatat belum ditemukan dalam pembaruan AP pada 2 September.

Pemerintah terus mencocokkan data hotel, kelompok wisata, pos perbatasan, keluarga, rumah sakit, dan tempat pengungsian agar daftar tersebut semakin akurat.

Harapan Besar Berada di Terowongan Pembangkit Listrik

Operasi penyelamatan kini banyak diarahkan menuju proyek pembangkit listrik tenaga air.

Sekitar 900 pekerja diperkirakan hilang di area proyek pembangkit yang diterjang banjir. Sebagian diyakini berada di dalam terowongan atau ruangan bawah tanah yang kemungkinan tidak sepenuhnya terisi air.

Harapan terbesar muncul karena sejumlah terowongan memiliki ruangan yang dapat menyimpan udara.

Petugas dari Nepal Electricity Authority memperkirakan pekerja tertentu mungkin masih mempunyai akses terhadap air dan makanan yang tersimpan di fasilitas.

Di proyek Trishuli 3A, petugas mencoba memasukkan oksigen melalui pipa menuju bagian terowongan yang diyakini masih kering.

Operasi seperti ini membutuhkan kehati hatian tinggi.

Membuka akses dengan alat berat secara terburu buru dapat mengubah kestabilan tanah atau memasukkan lumpur ke area yang sebelumnya masih mempunyai rongga udara.

Tim Internasional Mulai Membantu Nepal

Skala bencana membuat Nepal menerima dukungan dari sejumlah negara.

Tim khusus dari India, China, dan Amerika Serikat ikut terlibat dalam upaya menjangkau pekerja yang diperkirakan terperangkap di fasilitas pembangkit listrik.

Peralatan pencarian, teknologi pendeteksi kehidupan, anjing pelacak, alat berat, serta dukungan komunikasi ikut digunakan.

China juga mengirim tenaga ahli identifikasi DNA dan berbagai perlengkapan darurat untuk membantu Nepal.

Kerja sama lintas negara menjadi penting karena bencana tidak berhenti di wilayah Nepal.

Wilayah Tibet di China juga terkena banjir besar. Dalam pembaruan Reuters pada 2 September, sedikitnya 21 orang dilaporkan meninggal di sisi China dan 541 lainnya masih hilang.

Puing Mencapai Jutaan Ton

Salah satu persoalan terbesar dalam operasi pencarian adalah jumlah material yang harus dipindahkan.

United Nations Development Programme memperkirakan bencana menghasilkan sekitar 2,2 juta ton puing yang terdiri atas batu, sedimen, sisa bangunan, serta berbagai material lainnya.

Jumlah tersebut membuat pencarian tidak dapat hanya dilakukan menggunakan tenaga manusia.

Ekskavator dan kendaraan berat harus membuka akses secara perlahan. Namun, alat berat juga tidak dapat digunakan di seluruh lokasi karena tanah masih tidak stabil.

Beberapa area mempunyai risiko longsor tambahan.

Petugas harus memastikan alat dan personel tidak berada tepat di bawah lereng yang masih bergerak.

Keadaan geografis Nepal menambah kesulitan karena banyak desa berada di lembah sempit dengan tebing tinggi di kedua sisi.

Jalan dan Jembatan Terputus

Kerusakan jaringan transportasi membuat distribusi bantuan berjalan lebih lambat.

Reuters mencatat hampir 50 jembatan gantung terdampak. Sekitar 20 dinilai masih dapat diperbaiki, sedangkan sisanya kemungkinan harus dibangun ulang.

Jembatan gantung mempunyai fungsi penting bagi masyarakat Himalaya.

Pada sejumlah wilayah pegunungan, jembatan merupakan satu satunya penghubung antardesa yang dipisahkan sungai dan jurang.

Ketika jembatan hilang, perjalanan yang sebelumnya memerlukan beberapa menit dapat berubah menjadi perjalanan berjam jam.

Di beberapa tempat, warga dan petugas menggunakan jalur tali sementara untuk menyeberangkan manusia maupun barang.

Helikopter juga digunakan untuk mencapai komunitas yang masih terisolasi.

Ribuan Warga Mengungsi

Warga yang kehilangan rumah mulai bergerak menuju tempat pengungsian dan kota yang lebih aman.

Sekitar 400 penyintas dari kawasan Timure dan daerah sekitarnya dilaporkan berada di sebuah biara di Kathmandu. Mereka memperoleh makanan serta kebutuhan dasar dari masyarakat dan lembaga bantuan.

Sebagian pengungsi kehilangan seluruh barang milik mereka.

Rumah yang sebelumnya berada di tepi sungai tidak lagi dapat ditemukan. Tanah tempat bangunan berdiri berubah menjadi hamparan batu dan lumpur.

Kebutuhan pengungsi tidak hanya berupa makanan.

Air bersih, obat, pakaian, tempat tidur sementara, perlengkapan bayi, sanitasi, serta dukungan untuk anak menjadi bagian penting dalam penanganan.

Anak Mulai Menunjukkan Ketakutan

Kondisi psikologis anak juga menjadi perhatian.

Save the Children menyebut anak di kawasan Nuwakot dan Rasuwa mulai memperlihatkan rasa takut dan kecemasan setelah menyaksikan banjir menghancurkan lingkungan mereka.

Sebagian anak melihat rumah hanyut, sekolah rusak, atau teman mereka terseret air.

Pengalaman seperti itu tidak langsung selesai ketika air surut.

Anak membutuhkan tempat aman, pendampingan keluarga, lingkungan yang stabil, serta kesempatan kembali melakukan kegiatan sehari hari.

Sekolah di kawasan terdampak juga belum semuanya dapat digunakan.

Sejumlah bangunan pendidikan mengalami kerusakan atau sekarang dipakai sebagai lokasi pengungsian.

Seorang Kepala Sekolah Sempat Selamatkan Ratusan Murid

Di tengah banyaknya cerita kehilangan, terdapat pula sejumlah tindakan cepat yang menyelamatkan banyak orang.

Associated Press melaporkan seorang kepala sekolah bernama Rajendra Dawadi berhasil mengevakuasi sekitar 900 siswa sebelum air menyapu sekolah mereka.

Peringatan diterima ketika air bergerak menuju kawasan tersebut. Sekolah segera melakukan evakuasi dan membawa siswa menuju tempat yang lebih aman.

Tidak lama kemudian, banjir menerjang bangunan.

Kasus itu memperlihatkan betapa pendeknya waktu yang tersedia antara munculnya informasi dan tibanya air.

Pada bencana yang bergerak dengan kecepatan tinggi, beberapa menit dapat menentukan jumlah orang yang dapat meninggalkan area bahaya.

Sistem Peringatan Ikut Rusak

Nepal kini mulai mempersiapkan pembangunan ulang sistem peringatan dini di perbatasan dengan China.

Rencana tersebut mencakup pemasangan sensor seismik, kamera, dan sambungan satelit VSAT di Timure, Distrik Rasuwa.

Sistem satelit dipilih agar titik pemantauan tetap dapat mengirim informasi ketika jaringan telepon seluler terputus.

Banjir sebelumnya merusak sedikitnya empat stasiun pengukur di sekitar perbatasan.

Sistem lama juga mengalami keterbatasan pemantauan. Reuters melaporkan banjir mencapai pos perbatasan pada pukul 08.32 waktu setempat, sementara peringatan publik baru dikeluarkan pada pukul 09.13.

Selisih waktu tersebut menjadi perhatian besar setelah bencana.

Nepal Ingin Berbagi Data Lebih Cepat dengan China

Kawasan yang menjadi sumber banjir berada dekat perbatasan China.

Karena itu, Nepal membutuhkan data dari wilayah hulu untuk mengetahui perubahan aliran sungai, pergerakan gletser, dan pembentukan danau sementara.

Reuters melaporkan pejabat Nepal sebelumnya telah meminta pertukaran data secara lebih rinci dengan China mengenai pergerakan gletser dan ketinggian air.

Setelah banjir, China menyatakan telah membagikan citra satelit, data hidrologi, serta informasi mengenai danau yang terbentuk akibat material longsor.

Data semacam ini dapat memberikan waktu tambahan bagi masyarakat di hilir.

Dalam kondisi pegunungan yang curam, tambahan beberapa menit untuk berpindah ke lokasi lebih tinggi dapat menjadi sangat penting.

Medan Masih Belum Stabil

Bahaya belum sepenuhnya berakhir meskipun gelombang utama sudah berlalu.

Pejabat yang dikutip Reuters menyatakan bentang alam masih menyesuaikan diri setelah kejadian besar tersebut dan longsor susulan masih mungkin terjadi.

Material dalam jumlah besar telah berpindah dari lereng.

Tanah yang kehilangan penyangga dapat kembali bergerak, terutama apabila terjadi hujan atau getaran.

Dua danau penghalang yang sempat menimbulkan kekhawatiran dilaporkan telah mengalir sehingga ancaman langsung dari keduanya menurun.

Namun, tim tetap memantau lereng dan aliran sungai karena struktur pegunungan telah mengalami perubahan besar.

Kondisi tersebut juga membatasi area pencarian.

Petugas tidak dapat memaksakan operasi apabila risiko runtuhan terlalu tinggi.

Infrastruktur Listrik Rusak Berat

Banjir turut menyerang proyek pembangkit listrik tenaga air yang menjadi bagian penting pasokan energi Nepal.

Reuters mencatat sekitar sepersepuluh kapasitas pembangkitan listrik negara tersebut terkena gangguan. Delapan pembangkit yang sudah beroperasi dan empat proyek yang masih dibangun mengalami kerusakan.

Sebagian fasilitas diperkirakan masih dapat diperbaiki, tetapi beberapa lainnya mengalami kerusakan sangat besar.

Total kapasitas yang terganggu dilaporkan mencapai sekitar 431 megawatt.

Kerusakan listrik ikut memperlambat pemulihan komunikasi dan pelayanan publik.

Pemerintah Nepal menyatakan sekitar 95 persen layanan telekomunikasi di kawasan terdampak telah berhasil dipulihkan hingga 2 September.

Keluarga Mulai Menggelar Upacara untuk Orang Hilang

Besarnya jumlah orang yang belum ditemukan membuat beberapa keluarga mulai menerima kemungkinan bahwa kerabat mereka tidak selamat.

Di Distrik Nuwakot, keluarga menggelar upacara pemakaman simbolis bagi orang yang masih tercatat hilang.

Dalam tradisi Hindu, upacara terakhir mempunyai posisi penting bagi keluarga dan orang yang meninggal. Beberapa keluarga memilih menjalankan ritual meskipun jenazah kerabat belum ditemukan.

Di tepi Sungai Trishuli, keluarga menggunakan bentuk simbolis untuk mewakili anggota keluarga yang hilang.

Keputusan itu menunjukkan beratnya masa tunggu.

Tidak adanya jenazah membuat keluarga sulit memperoleh kepastian, sementara operasi pencarian masih berlangsung di wilayah yang sangat luas.

Jenazah yang Belum Dikenali Dikuburkan Sementara

Jumlah korban juga menimbulkan persoalan dalam proses identifikasi.

Pemerintah Nepal mulai melakukan pemakaman sementara terhadap jenazah yang belum berhasil dikenali.

Sebelum dimakamkan, petugas menyimpan sampel DNA, mengambil foto ciri fisik, serta mencatat informasi yang dapat membantu proses identifikasi.

Data tersebut nantinya dicocokkan dengan laporan keluarga.

Prosedur semacam ini diperlukan karena kondisi jenazah tidak selalu memungkinkan identifikasi visual secara langsung.

Sebagian korban juga ditemukan jauh dari lokasi tempat mereka terakhir terlihat karena terbawa aliran.

Wisatawan Asing Masih Masuk Daftar Pencarian

Nepal merupakan salah satu tujuan utama wisata pegunungan dan kegiatan spiritual dunia.

Ketika bencana terjadi, banyak wisatawan sedang berada di jalur perjalanan, hotel kecil, kawasan pegunungan, dan wilayah dekat perbatasan.

Itulah sebabnya ratusan warga asing ikut masuk daftar pencarian.

Kementerian Luar Negeri Nepal mencatat 590 warga asing dari 39 negara belum ditemukan pada pembaruan 2 September.

Jumlah tersebut masih dapat turun ketika lebih banyak wisatawan berhasil menghubungi kedutaan atau keluarga.

Australia, misalnya, mengurangi jumlah warga yang dicari setelah lima orang berhasil dikonfirmasi selamat.

Otoritas pariwisata Nepal juga menerima komunikasi dari wisatawan yang sebelumnya tidak dapat dihubungi.

Jumlah Korban Bisa Berubah karena Data Terus Dicocokkan

Perbedaan angka korban antara laporan Reuters dan Associated Press tidak berarti salah satu pihak pasti keliru.

Dalam bencana dengan ribuan korban, angka dapat berubah karena waktu pelaporan, pencocokan data, temuan jenazah baru, dan perubahan status orang yang sebelumnya hilang.

Reuters pada pembaruan terbaru mencatat sedikitnya 1.204 kematian dan lebih dari 4.200 orang belum ditemukan.

AP pada laporan lain menggunakan angka sedikitnya 1.118 meninggal dan lebih dari 3.900 hilang.

Karena pencarian masih berjalan, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai catatan sementara.

Otoritas masih mendatangi kawasan terpencil, membuka terowongan, memeriksa puing, dan mencocokkan laporan dari keluarga.

“Jumlah korban tidak seharusnya dilihat hanya sebagai angka yang terus berubah. Di balik setiap tambahan data terdapat keluarga yang menunggu kepastian mengenai orang yang belum pulang.”

Gletser Menjadi Pusat Penyelidikan

Para ilmuwan terus memeriksa kejadian yang memicu banjir.

Dugaan awal mengarah pada runtuhnya bagian gletser yang membawa batu dan es, kemudian menghambat aliran air sebelum material tersebut jebol dan bergerak menuju lembah.

Associated Press melaporkan para ilmuwan menilai runtuhan gletser kemungkinan membentuk bendungan sementara pada sungai. Ketika struktur alami itu gagal menahan air, gelombang besar bergerak ke wilayah bawah.

Proses semacam ini dapat terjadi dengan sangat cepat.

Masyarakat yang berada puluhan kilometer dari sumber mungkin tidak melihat perubahan apa pun sampai volume air mendadak meningkat.

Wilayah Himalaya memiliki banyak gletser, dan perubahan temperatur menjadi salah satu perhatian utama para ilmuwan yang mempelajari kestabilan kawasan tersebut.

Pemerintah Nepal Memastikan Pencarian Tetap Dilanjutkan

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyatakan pencarian dan penyelamatan tetap menjadi prioritas pemerintah.

Tim diperintahkan terus mencari warga yang masih hilang sekaligus memberikan bantuan kepada keluarga terdampak.

Harapan menemukan korban hidup memang semakin kecil setelah satu pekan.

Namun, area seperti terowongan pembangkit listrik masih memberikan kemungkinan berbeda karena terdapat ruangan tertutup yang mungkin memiliki udara dan persediaan.

Petugas karena itu tidak hanya menggali puing di permukaan.

Pencarian difokuskan pula pada struktur bawah tanah, gedung yang sebagian masih berdiri, kendaraan, serta area yang dapat membentuk ruang kosong.

Operasi tersebut akan terus berjalan ketika Nepal berusaha memperoleh kepastian terhadap ribuan orang yang hingga kini masih tercatat hilang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *