Bahlil Buka Peluang Pertamax Turun Saat Harga Minyak Dunia Melandai

Berita142 Views

Bahlil Buka Peluang Pertamax Turun Saat Harga Minyak Dunia Melandai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia membuka peluang penurunan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax apabila harga minyak mentah dunia kembali melemah. Pemerintah akan lebih dahulu memeriksa pergerakan harga minyak, Indonesian Crude Price, nilai tukar rupiah, serta kondisi usaha badan penyalur sebelum mengambil keputusan.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin, 20 Juli 2026. Ia mengatakan pemerintah akan menggelar rapat bersama Pertamina dan sejumlah badan usaha lain untuk mencari perhitungan harga yang sesuai. Penurunan tidak dapat diputuskan hanya dengan melihat perubahan harga minyak selama satu atau dua hari karena pasar energi masih bergerak sangat cepat.

Kabar ini mendapat perhatian besar setelah harga Pertamax mengalami kenaikan tajam pada Juni 2026. Di wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor sebesar 5 persen, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Pertamax Green 95 juga naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Pemerintah Mulai Menghitung Ruang Penurunan Harga

Peluang penyesuaian Pertamax muncul ketika pemerintah melihat harga minyak mentah sempat bergerak turun dibandingkan posisi tertingginya pada April dan Mei 2026. Namun, pergerakan komoditas energi belum stabil. Harga dapat turun setelah ketegangan mereda, kemudian kembali naik ketika jalur pengiriman minyak menghadapi gangguan.

Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan penghitungan awal. Tahap berikutnya adalah rapat dengan Pertamina dan badan usaha swasta yang menjual BBM di Indonesia. Pemerintah ingin harga untuk konsumen tetap wajar tanpa membuat perusahaan penyalur mengalami kerugian yang mengganggu pasokan.

Menurut Bahlil, beberapa jenis BBM memiliki peluang untuk disesuaikan ketika harga minyak dunia turun. Pemerintah juga mulai meminta badan usaha, termasuk Pertamina, agar segera menyesuaikan harga ketika ruang penurunan benar benar tersedia.

Pemerintah belum menyampaikan jenis BBM apa saja yang akan lebih dahulu mengalami perubahan. Meski Pertamax menjadi produk yang paling banyak dibicarakan, keputusan resminya masih menunggu hasil rapat, perhitungan biaya pengadaan, serta perkembangan harga minyak pada periode evaluasi.

Penulis menilai pernyataan Bahlil memberi sinyal bahwa pemerintah tidak menutup kemungkinan menurunkan Pertamax, tetapi masyarakat tetap perlu membedakan antara peluang dan keputusan resmi yang sudah memiliki tanggal berlaku.

Pertamax Masih Bertahan di Harga Rp16.250 per Liter

Harga Pertamax belum berubah setelah penyesuaian besar pada 10 Juni 2026. Kenaikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter membuat selisih harga antara Pertamax dan Pertalite semakin lebar, terutama bagi pengendara yang mengisi bahan bakar setiap hari.

Pada awal Juli 2026, Pertamina telah menurunkan harga beberapa produk BBM non subsidi lainnya. Pertamax Turbo turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.300 per liter. Pertamina Dex turun dari Rp24.800 menjadi Rp21.150 per liter, sedangkan Dexlite turun dari Rp23.000 menjadi Rp21.150 per liter. Pertamax dengan angka oktan 92 belum ikut diturunkan dan tetap berada pada harga Rp16.250 per liter.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan karena Pertamax memiliki jumlah pengguna lebih besar dibandingkan Pertamax Turbo atau bahan bakar diesel premium. Perubahan harga Pertamax lebih mudah dirasakan oleh pekerja, pengemudi angkutan daring, pengguna sepeda motor, serta keluarga yang mengandalkan kendaraan pribadi.

Kenaikan hampir Rp4.000 per liter juga mengubah perhitungan pengeluaran bulanan. Pengendara yang membeli 100 liter Pertamax dalam sebulan harus menyediakan biaya tambahan sekitar Rp395.000 dibandingkan harga sebelum 10 Juni. Untuk kendaraan yang menempuh perjalanan lebih jauh, kenaikannya tentu dapat lebih besar.

Selisih Harga dengan Pertalite Semakin Lebar

Selisih harga yang besar dapat mendorong sebagian konsumen beralih ke Pertalite. Perpindahan tersebut tidak selalu terjadi karena pilihan kualitas, melainkan karena kemampuan pengeluaran rumah tangga yang terbatas.

Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi sebelumnya menyebut pengguna Pertamax banyak berasal dari kelompok menengah. Menurutnya, apabila konsumen Pertamax berpindah ke Pertalite, kebutuhan terhadap BBM subsidi dapat bertambah dan meningkatkan beban fiskal pemerintah.

Pertalite mempunyai angka oktan lebih rendah dibandingkan Pertamax. Pemilik kendaraan tetap perlu mengikuti rekomendasi pabrikan mengenai jenis bahan bakar yang sesuai dengan rasio kompresi mesin. Penggunaan bahan bakar tidak semestinya hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga kebutuhan teknis kendaraan.

Harga Minyak Dunia Bukan Satu Satunya Penentu

Harga minyak mentah dunia memang menjadi unsur penting dalam pembentukan harga BBM non subsidi. Namun, harga di SPBU tidak langsung berubah dalam hitungan jam ketika Brent atau West Texas Intermediate bergerak turun.

Badan usaha biasanya memakai harga rata rata dalam periode tertentu. Cara ini diperlukan agar harga ritel tidak berubah setiap hari mengikuti pasar komoditas. Selain itu, pembelian minyak mentah dan produk BBM dilakukan melalui kontrak, jadwal pengiriman, biaya penyimpanan, serta proses distribusi yang membutuhkan waktu.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga memiliki peran besar. Transaksi pengadaan minyak umumnya menggunakan dolar. Ketika harga minyak turun tetapi rupiah melemah, penghematan yang diperoleh badan usaha dapat berkurang.

Komponen lain mencakup biaya pengolahan di kilang, pengangkutan melalui kapal, penyimpanan di terminal, distribusi ke SPBU, margin badan usaha, dan pajak. Oleh sebab itu, penurunan harga minyak mentah belum tentu menghasilkan penurunan Pertamax dengan persentase yang sama.

Indonesian Crude Price Menjadi Acuan Penting

Pemerintah juga memperhatikan Indonesian Crude Price atau ICP, yaitu harga rata rata minyak mentah Indonesia yang ditetapkan setiap bulan. ICP digunakan dalam sejumlah perhitungan sektor energi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menunjukkan ICP Mei 2026 berada pada angka 106,56 dolar Amerika Serikat per barel. Angka itu turun 10,75 dolar dari April 2026 yang mencapai 117,31 dolar per barel. Pada Juni 2026, ICP kembali turun menjadi 83,45 dolar per barel.

Penurunan dari posisi April hingga Juni memberi ruang bagi pemerintah dan badan usaha untuk meninjau kembali harga BBM. Akan tetapi, perhitungan tidak hanya memakai satu angka bulanan. Pemerintah perlu melihat apakah pelemahan tersebut bertahan atau hanya berlangsung sebentar.

Bahlil mengingatkan bahwa ICP dapat naik dan turun dalam waktu singkat. Harga yang turun hari ini dapat kembali naik beberapa hari kemudian. Pemerintah tidak ingin keputusan yang terlalu cepat justru memaksa badan usaha menaikkan harga lagi dalam waktu dekat.

Gejolak Timur Tengah Membuat Harga Sulit Diprediksi

Pergerakan harga minyak sepanjang 2026 banyak dipengaruhi ketegangan di Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur pengiriman, terutama Selat Hormuz, membuat pasar segera memasukkan risiko pasokan ke dalam harga.

Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak dari negara negara Teluk. Ketika pelayaran terganggu atau kapal tanker menghadapi ancaman keamanan, pelaku pasar memperkirakan pasokan menuju konsumen global akan berkurang. Harga minyak kemudian bergerak naik meskipun produksi belum benar benar berhenti.

Pada pertengahan Juni, harga Brent sempat turun ke sekitar 78,96 dolar per barel setelah perkembangan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran serta kembali terbukanya jalur pengiriman. WTI juga turun ke sekitar 76,05 dolar per barel. Penurunan ini mendorong Kementerian ESDM menyatakan bahwa BBM non subsidi dapat ikut disesuaikan apabila pelemahan berlanjut.

Namun, pasar kembali berbalik. Pada 14 Juli 2026, Brent berada sekitar 84,73 dolar per barel dan WTI mencapai 79,34 dolar setelah ketegangan kembali meningkat. Pada 20 Juli, Brent bahkan sempat menembus 90 dolar per barel ketika serangan Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan.

Perubahan tajam tersebut menjelaskan mengapa pemerintah belum menetapkan tanggal penurunan Pertamax. Penurunan ICP Juni memberi peluang, tetapi lonjakan harga pada Juli dapat memperkecil ruang penyesuaian apabila bertahan cukup lama.

Pemerintah Mencari Harga yang Tidak Memberatkan Konsumen

Dalam penjelasannya, Bahlil menekankan perlunya formulasi yang adil bagi konsumen dan badan usaha. Pemerintah ingin harga BBM non subsidi tidak terlalu membebani masyarakat, tetapi perusahaan tetap memperoleh keuntungan yang cukup untuk menjaga kegiatan pengadaan dan distribusi.

Bahlil menyebut pengguna BBM non subsidi sekitar 20 persen dan umumnya berasal dari kelompok yang dinilai mampu. Meski demikian, kelompok pengguna tersebut tidak seluruhnya mempunyai kemampuan ekonomi yang sama. Banyak pekerja kelas menengah menggunakan Pertamax karena spesifikasi kendaraannya memerlukan bahan bakar dengan angka oktan 92.

Harga Pertamax juga dapat memengaruhi ongkos kegiatan usaha. Pedagang, tenaga penjualan, pekerja lapangan, layanan pengiriman, dan pengemudi angkutan daring menggunakan kendaraan sebagai alat mencari penghasilan. Kenaikan harga bahan bakar akan masuk ke dalam biaya operasional mereka.

Menurut penulis, pemerintah perlu menjelaskan formula penyesuaian secara terbuka agar konsumen memahami alasan Pertamax naik, bertahan, atau turun ketika harga minyak mentah berubah.

Transparansi dapat mencakup periode rata rata harga minyak yang dipakai, pergerakan rupiah, biaya pengadaan, serta besaran pajak. Penjelasan semacam ini membantu mengurangi anggapan bahwa harga hanya cepat naik ketika minyak dunia meningkat, tetapi lambat turun saat harga melemah.

Harga BBM Subsidi Dipastikan Tidak Naik

Di tengah pembahasan mengenai Pertamax, Bahlil kembali memastikan pemerintah tidak berencana menaikkan harga BBM subsidi. Kebijakan tersebut terutama ditujukan untuk menjaga kelompok masyarakat yang paling membutuhkan perlindungan.

Sebelumnya, Bahlil menyatakan harga BBM dan LPG subsidi tidak akan naik sampai 31 Desember 2026, bahkan apabila ICP mencapai 100 dolar Amerika Serikat per barel. Ia menyebut BBM non subsidi mengikuti mekanisme pasar, sedangkan bantuan pemerintah dipusatkan kepada masyarakat yang dinilai berhak menerima subsidi.

Pernyataan pada 20 Juli kembali mempertegas posisi tersebut. Bahlil mengatakan tidak ada rencana menaikkan harga BBM subsidi. Pemerintah berusaha menjaga pasokan melalui kerja sama pengadaan minyak mentah dengan beberapa negara. Ia juga melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa kebutuhan minyak mentah hingga akhir 2026 dalam kondisi terkendali.

Jaminan terhadap harga subsidi menjadi penting ketika minyak dunia bergerak tidak menentu. Tanpa perlindungan harga, kenaikan energi dapat menekan kemampuan belanja kelompok berpenghasilan rendah dan meningkatkan biaya distribusi barang.

Meski demikian, pemerintah tetap menghadapi tugas untuk memastikan BBM subsidi digunakan oleh kelompok yang sesuai. Peralihan pengguna Pertamax ke Pertalite akibat selisih harga yang terlalu lebar dapat meningkatkan volume konsumsi dan mengurangi ketepatan penyaluran.

Pertamina Menunggu Pergerakan Harga yang Lebih Stabil

Pertamina Patra Niaga sebelumnya telah menyatakan bahwa penurunan harga BBM non subsidi memungkinkan dilakukan apabila tren harga minyak dunia terus melemah. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Robert Dumatubun menjelaskan bahwa harga ditentukan melalui mekanisme yang berlaku di Indonesia dengan mengacu pada perkembangan pasar minyak mentah.

Pertamina belum dapat memastikan waktu penurunan Pertamax. Keputusan bergantung pada harga minyak, kondisi keamanan global, nilai tukar, serta hasil evaluasi pada periode berikutnya.

Dewan komisaris Pertamina juga pernah mendorong manajemen segera membahas penyesuaian harga secara bertahap. Dorongan tersebut muncul ketika harga minyak sempat turun setelah ketegangan Amerika Serikat dan Iran mereda untuk sementara. Namun, ketegangan yang kembali meningkat membuat harga bergerak naik lagi.

Bagi badan usaha, harga ritel harus mampu menutup biaya pengadaan yang sudah terjadi. Minyak atau produk BBM yang dijual pada bulan ini dapat berasal dari pembelian ketika harga internasional masih tinggi. Faktor jeda pembelian dan penjualan membuat perubahan harga SPBU tidak selalu berlangsung bersamaan dengan pergerakan pasar harian.

Masyarakat Perlu Menunggu Pengumuman Harga Resmi

Peluang penurunan Pertamax kembali membuka ruang bagi penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Sebelumnya, beredar unggahan yang mengklaim Bahlil mengumumkan harga Pertamax turun menjadi Rp10.500 per liter mulai 18 Juni 2026.

Klaim tersebut dipastikan tidak benar. Tidak ditemukan pengumuman resmi dari Bahlil, Kementerian ESDM, maupun Pertamina Patra Niaga mengenai harga Rp10.500 per liter. Informasi palsu itu beredar setelah harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni.

Masyarakat sebaiknya memeriksa perubahan harga melalui kanal resmi Pertamina, Kementerian ESDM, atau papan harga di SPBU. Pernyataan mengenai peluang penurunan belum dapat dianggap sebagai penetapan harga baru.

Keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada hasil rapat pemerintah dengan badan usaha, rata rata harga minyak dalam periode evaluasi, pergerakan ICP Juli, serta kestabilan jalur pasokan. Selama unsur tersebut masih berubah cepat, harga Pertamax berpeluang tetap bertahan meskipun pemerintah telah membuka pintu penyesuaian.

Perhatian berikutnya akan tertuju pada besaran penurunan apabila keputusan akhirnya diterbitkan. Konsumen juga menunggu apakah harga akan kembali mendekati posisi Rp12.300 per liter atau hanya turun secara bertahap mengikuti pemulihan biaya pengadaan Pertamina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *