Hujan Hulu Picu Tanggul Sungai Welang Jebol, Pasuruan Kembali Dikepung Banjir

Berita204 Views

Hujan Hulu Picu Tanggul Sungai Welang Jebol, Pasuruan Kembali Dikepung Banjir Hujan deras yang mengguyur wilayah hulu Pasuruan sejak Selasa, 21 April 2026 sore hingga malam kembali menyeret kawasan hilir ke situasi yang tidak diinginkan. Sungai Welang meluap, banjir masuk ke sejumlah desa, dan kondisi makin memburuk setelah parapet atau tanggul Sungai Welang jebol di wilayah Dusun Suko, Desa Sukorejo, Kecamatan Pohjentrek. Detik melaporkan luapan Sungai Welang menjadi pemicu utama banjir di sejumlah titik di Kabupaten dan Kota Pasuruan, sementara kerusakan tanggul ikut memperparah limpasan air ke permukiman.

Peristiwa ini kembali menunjukkan satu pola yang sangat akrab di Pasuruan. Hujan di wilayah hulu tidak berhenti sebagai urusan pegunungan atau kawasan atas semata, tetapi cepat menjelma menjadi ancaman di daerah yang lebih rendah. Saat debit sungai naik cepat, tanggul yang tidak sanggup menahan tekanan air menjadi titik paling rawan. Begitu parapet jebol, air tidak lagi hanya meluap dari badan sungai, tetapi langsung punya jalur masuk yang lebih agresif ke kampung dan jalan.

Dalam konteks inilah kabar tentang tanggul Sungai Welang yang jebol terasa penting dibaca lebih teliti. Ini bukan sekadar berita banjir biasa. Ada kombinasi antara curah hujan dari hulu, luapan sungai, kerusakan struktur pelindung, dan efek lintas wilayah yang membuat banjir merembet dari Kabupaten Pasuruan sampai berdampak ke Kota Pasuruan.

Hujan deras di wilayah hulu menjadi pemicu utama

Akar persoalan pada kejadian kali ini memang berawal dari hujan deras di wilayah atas. Sejumlah laporan menyebut hujan lebat mengguyur sejak sore hari pada 21 April 2026, lalu membuat Sungai Welang dan juga beberapa aliran lain mengalami kenaikan debit. Detik menulis Sungai Welang meluap setelah hujan deras mengguyur sejak sore, sementara Kompas yang dikutip berbagai sumber lain juga menyebut hujan deras di wilayah hulu menyebabkan dua sungai di Pasuruan meluap dan memicu banjir di desa desa sekitar serta jalur Pantura.

Data dari Pemerintah Kota Pasuruan menunjukkan pola luapan yang cukup jelas. Dalam laporan Ramapati Kota Pasuruan, Sungai Welang tercatat meluap pada pukul 17.05 WIB, lalu disusul Sungai Gembong pukul 18.10 WIB dan Sungai Petung sekitar pukul 20.00 WIB. Catatan waktu ini memperlihatkan bahwa tekanan air meningkat bertahap tetapi cepat, sehingga kawasan yang berada di sekitar aliran sungai tidak punya banyak ruang untuk bersiap lama.

Bagi warga di wilayah hilir, pola seperti ini sangat berat. Hujan lebat belum tentu turun deras di tempat mereka, tetapi air kiriman dari atas bisa datang dalam volume besar. Ini yang membuat banjir akibat luapan sungai sering terasa lebih mengagetkan dibanding genangan akibat hujan lokal biasa. Ketika hulu sedang menumpahkan air, wilayah bawah harus menerima beban yang mungkin jauh melampaui kapasitas saluran dan tanggul yang ada.

Titik jebol berada di Desa Sukorejo, Pohjentrek

Kerusakan paling penting dalam peristiwa ini terjadi di Dusun Suko, Desa Sukorejo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan. AKURAT menulis tanggul yang jebol memiliki panjang sekitar 15 meter, dengan tinggi sekitar 1 sampai 2 meter dan lebar sekitar 50 sentimeter. Sementara Detik menyebut parapet yang jebol berada di Kabupaten Pasuruan dan menjadi salah satu faktor yang membuat banjir meluas hingga berdampak ke wilayah lain.

Angka panjang 15 meter itu penting karena menunjukkan kerusakan yang tidak kecil. Dalam sistem pertahanan sungai, celah sepanjang itu cukup untuk membuat air mencari jalan baru dengan cepat, apalagi bila debit sungai sedang tinggi. Begitu struktur terbuka, arus tidak lagi tertahan dan air bergerak ke area yang lebih rendah di sekitarnya. Pada kondisi seperti ini, banjir tidak hanya soal permukaan sungai yang naik, tetapi soal kehilangan penghalang yang seharusnya menahan air tetap di badan sungai.

Titik jebol di Pohjentrek juga menjelaskan kenapa banjir tidak berhenti di satu wilayah administratif. Air dari Sungai Welang yang menemukan jalan melalui kerusakan parapet itu bergerak ke kawasan terdampak lain, termasuk yang secara administratif sudah berbeda kecamatan bahkan merembet efeknya ke kota. Ini membuat penanganannya tidak bisa dibaca sebagai urusan satu desa semata.

Banjir meluas ke beberapa desa dan jalur penting

Sebelum dan sesudah tanggul jebol, luapan Sungai Welang sudah lebih dulu memicu banjir di beberapa desa. Detik mencatat di wilayah Kabupaten Pasuruan banjir terjadi di Desa Sidogiri, Klampisrejo, dan Tambakrejo di Kecamatan Kraton, serta Desa Sukorejo di Kecamatan Pohjentrek. Ketinggian air bervariasi, dari belasan sampai puluhan sentimeter di sejumlah titik.

Laporan lain menegaskan bahwa banjir juga mengganggu jalur Pantura Pasuruan Probolinggo, yang tentu memberi efek lebih luas dari sekadar gangguan lingkungan permukiman. Ketika jalur utama ikut tergenang, kegiatan ekonomi, perjalanan warga, distribusi barang, dan mobilitas harian ikut tersendat. Inilah yang membuat banjir sungai seperti ini tidak bisa diperlakukan sebagai gangguan lokal biasa. Ia punya efek berantai yang menjalar ke urat nadi pergerakan wilayah.

Hingga Rabu, 22 April 2026, kondisi memang mulai berangsur surut di sebagian lokasi. WartaBromo menulis genangan tersisa terutama di Desa Tambakrejo, Kecamatan Kraton, dengan empat dusun yang masih terdampak dan ketinggian air sekitar 10 sampai 50 sentimeter. Tetapi fakta bahwa air sudah surut di beberapa titik tidak menghapus persoalan utama. Yaitu adanya kerusakan tanggul yang harus segera ditangani supaya tekanan air susulan tidak membuka kerusakan yang lebih parah.

Dampaknya merembet sampai wilayah Kota Pasuruan

Salah satu hal yang membuat kejadian ini terasa serius adalah efek lintas wilayahnya. Detik secara spesifik menulis bahwa jebolnya tanggul di wilayah Kabupaten Pasuruan berdampak sampai ke Dusun Rujakgadung, Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Warga setempat juga mengaku air yang masuk ke lingkungan mereka berkaitan dengan kerusakan tanggul di wilayah kabupaten.

Sementara itu, Pemkot Pasuruan melalui kanal resminya melaporkan bahwa kota juga mengalami banjir karena meluapnya tiga sungai, yaitu Welang, Gembong, dan Petung. Ini berarti Kota Pasuruan tidak hanya menerima limpasan dari satu titik masalah, tetapi berhadapan dengan tekanan hidrologis yang lebih luas. Dalam situasi seperti itu, jebolnya parapet di Sungai Welang membuat keadaan menjadi makin sulit dikendalikan.

Efek lintas wilayah seperti ini memperlihatkan pentingnya koordinasi antarinstansi. Sungai tidak mengenal batas administratif yang kaku. Saat satu titik pertahanan di kabupaten rusak, kota bisa ikut menanggung akibatnya. Karena itu, penanganan kejadian seperti ini memang harus dilihat sebagai urusan bersama antara BPBD. Dinas sumber daya air, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota.

BPBD menunggu asesmen dan koordinasi dengan SDA Provinsi

Setelah tanggul jebol, BPBD Kabupaten Pasuruan menyatakan akan melakukan asesmen lebih dulu lalu berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur. Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi yang dikutip Detik menyebut hal itu sebagai langkah berikutnya, seraya menegaskan bahwa urusan sungai tersebut menjadi kewenangan provinsi.

Pernyataan ini penting karena menunjukkan dua hal. Pertama, kerusakan tanggul tidak bisa langsung ditangani seadanya tanpa penghitungan teknis. Kedua, secara kewenangan, penanganan sungai besar seperti Welang memang tidak sepenuhnya berada di tangan pemerintah kabupaten. Ini menjelaskan kenapa langkah lanjutan harus melalui jalur koordinasi dengan perangkat provinsi yang membidangi sumber daya air.

Di lapangan, warga biasanya ingin penanganan secepat mungkin, dan itu sangat bisa dipahami. Tetapi untuk struktur sungai, penanganan darurat dan penanganan permanen sering membutuhkan dua pendekatan berbeda. Asesmen diperlukan untuk mengetahui kondisi kerusakan, tekanan arus, kemungkinan pelebaran titik jebol. Dan langkah paling aman untuk penutupan sementara maupun perbaikan permanen.

Masalahnya tidak berhenti pada hujan, tetapi juga pada kekuatan tanggul

Hujan deras dari hulu memang menjadi pemicu utama, tetapi kejadian ini juga membuka pertanyaan lain yang tak kalah penting. Yakni seberapa siap tanggul Sungai Welang menghadapi tekanan air besar. Dalam banyak kejadian banjir sungai. Hujan ekstrem memang tidak bisa dihindari, tetapi tingkat kerusakan di lapangan sering kali sangat dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur pengendali air. Jika parapet jebol, itu berarti ada titik yang gagal menahan beban.

Ini bukan sekadar persoalan teknis kecil. Tanggul sungai adalah garis pertahanan terakhir sebelum air masuk ke rumah, jalan, dan lahan warga. Saat garis itu retak atau jebol, maka seluruh sistem perlindungan langsung melemah. Karena itu, pembahasan tentang hujan deras seharusnya tidak berhenti pada cuaca. Ia juga harus menyentuh pertanyaan tentang pemeliharaan tanggul. Inspeksi berkala, dan antisipasi pada titik titik yang selama ini mungkin sudah lemah.

BNPB sendiri dalam salah satu rilis nasional awal April 2026 menegaskan pentingnya pengecekan rutin tanggul sungai agar tidak jebol saat hujan deras. Meski bukan khusus untuk Sungai Welang, pesan ini terasa sangat relevan dengan kejadian di Pasuruan sekarang. Dalam konteks bencana hidrometeorologi, pencegahan sering justru ditentukan oleh kerja kecil yang dilakukan jauh sebelum air besar datang.

Surutnya air belum berarti persoalan selesai

WartaBromo menulis bahwa hingga Rabu siang genangan memang tinggal tersisa di satu desa, terutama Tambakrejo. Namun surutnya air lebih menggambarkan berhentinya fase puncak genangan, bukan berakhirnya masalah. Selama titik jebol di Sungai Welang belum ditangani dengan baik, kerentanan tetap terbuka. Bila hujan deras kembali turun di wilayah hulu, tekanan yang sama bisa muncul lagi.

Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Pasca banjir, perhatian publik sering cepat bergeser ketika air mulai turun. Padahal justru sesudah itu pemerintah harus bergerak paling cepat untuk memperbaiki titik lemah. Penanganan darurat memang penting untuk menyelamatkan situasi saat banjir terjadi. Tetapi pemulihan struktur sungai jauh lebih menentukan untuk mencegah kejadian serupa berulang dalam waktu dekat.

Maka, berita tentang tanggul Sungai Welang yang jebol karena hujan deras dari hulu tidak boleh dibaca hanya sebagai kabar harian tentang banjir. Ini adalah peringatan bahwa hubungan antara hulu dan hilir di Pasuruan sangat rapat. Dan bahwa satu kerusakan pada sistem sungai bisa cepat berubah menjadi gangguan luas bagi banyak desa dan kota. Air boleh mulai surut, tetapi pekerjaan sesudahnya justru menentukan apakah kejadian ini akan berhenti sebagai satu episode. Atau kembali terulang saat hujan besar berikutnya datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *